Kamis, 15 Oktober 2015

PENALARAN ILMIAH



Nama               : Winda Meryeta P
NPM/Kelas     : 29213324 / 3EB24
Mata Kuliah    : Bahasa Indonesia 2

PENALARAN ILMIAH

A.    PENALARAN
Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubungkan bukti-bukti secara logika berdasarkan bukti atau fakta untuk memecahkan suatu masalah atau menunjuk satu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan.
Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas).

Jenis-jenis penalaran dengan pengertiannya :
1.      Penalaran Induktif : Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang diawali dari sesuatu yang khusus menuju sesuatu yang umum.
Penalaran Induktif dilakukan dengan 3 cara:
a.       Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang berawal dari beberapa gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari peristiwa itu. Generalisasi dapat diperoleh dari pengalaman, wawancara, observasi dan sebagainya.
Contoh penalaran induktif dengan cara generalisasi : Berdasarkan pengalaman, seorang ibu dapat mengetahui dan membedakan kebiasaan atau sifat anaknya yang pertama dengan anaknya yang kedua.
b.      Analogi
Analogi adalah suatu proses yag berawal dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal lainya”
Contoh penalaran induktif dengan cara analogi: Dalam riset medis, peneliti mengamati berbagai efek dari bermacam bahan melalui eksperimen binatang seperti tikus dan kera, yang dalam beberapa hal memiliki kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dalam penelitian itu akan disimpulkan apa yang akan terjadi pada hewan tersebut akan terjadi pula pada manusia.
c.       Hubungan Kausal (Sebab Akibat)
hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang berawal dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul tanpa penyebab.
Contoh penalaran induktif dengan cara hubungan kausal: Tiara harus membuat surat keterangan rawat inap dari Rumah Sakit karena Ia sakit demam beradarah saat sedang ujian tengah semester. Surat itu harus diberikan ke kampus, karena Tiara tidak dapat melaksakan ujian dengan alasan yang kuat. Karena kalau tidak ada surat itu,  Tiara tidak diperkenankan mengikuti ujian susulan.
2.      Penalaran Deduktif: suatu proses berpikir yang berawal dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, teori atau keyakinan) menuju hal-hal khusus.
Penalaran dedukti dilakukan dengan 2 cara :
a.       Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua pernyataan yang berbeda untuk menarik sebuah kesimpulan yang merupakan pernyataan yang ketiga. Silogisme terdiri atas 3 yaitu :
-          Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan generalisasi atau proposisis yang dianggap benar bagi semua unsur atau anggota kelas tertentu.
-          Premis minor mengandung term minor atau tengah dari silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menuntuk sebuah kasus atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu.
-          Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.
·         Premis mayor : Semua dosen di Universitas G minimal bergelar S2.
·         Premis minor : Pak Gendut adalah dosen di Universitas G.
·         Kesimpulan   : Pak Gendut sudah bergelar S2.
b.      Entinem
Entiem adalah suatu proses penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
c.      Salah Nalar, Pengertian dan Macamnya
Salah nalar (reasioning atau logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena kurang tepat dalam menarik kesimpulan. Kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kecerobohan atau ketidaktahuan.
Salah nalar dapat dibedakan atas 5 macam:
-         Generalisasi yang terlalu luas
Salah nalar ini terjadi karena kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap menggampangkan, malas mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas.
-        Kerancuan analogi
Kerancuan analogi disebabkan karena penggunaan analogi yang tidak tepat. Dua hal yang diperbandingkan tidak memiliki kesamaan esensial (pokok).
-        Kekeliruan kasualitas (sebab akibat)
Kekeliruan kasualitas terjadi karena kekeliruan menentukan sebab.
-        Kesalahan relevansi
Kesalahan relevansi akan terjadi apabila bukti yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang sebuah kesimpulan.
-        Penyandaran terhadap prestise seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya.

B.     PROPOSISI
Proposisi sendiri berarti data yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar-tidaknya. Agar pembaca dapat menerima data secara benar maka data ini harus dirumuskan dalam kalimat berita yang netral. Proposisi ini terbangun karena adanya unsur yang disebut term.
Term adalah kata atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah kalimat proposisi. Dengan demikian, proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat dalam subjek dan predikat. Sebagai contoh coba kita lihat kalimat di bawah ini:
“Semua kayu pasti akan keropos” Kalimat “Semua kayu pasti akan keropos” adalah sebuah bentuk proposisi, sedang kalimat “Semua kayu” dan “pasti akan keropos” adalah term. Hal yang menjadi catatan adalah bahwa proposisi harus berupa kalimat berita. Dalam kalimat ini pula harus dapat ditunjuk kelompok kalimat subjek dan kelompok kalimat predikat.

Jenis-jenis proposisi ada 4 :

a.       Berdasarkan bentuk
Berdasarkan bentuk, proposisi dapat dibedakan ke dalam proposisi tunggal dan proposisi majemuk. Proposisi tunggal merupakan proposisi yang terdiri atas satu pernyataan, sedangkan proposisi majemuk merupakan proposisi yang memuat dua (atau lebih) pernyataan dalam satu kalimat. Sebagai contoh perhatikan kalimat di bawah ini:
“Semua polisi bertugas mengayomi dan mengamankan masyarakat.”
Pada dasarnya kalimat di atas terdiri dari dua pernyataan, yaitu “semua polisi bertugas mengayomi masyarakat.” dan “semua polisi bertugas mengamankan masyarakat.”
b.      Berdasarkan sifat
Berdasarkan sifat, proposisi dapat dibedakan ke dalam proposisi kategorial dan proposisi kondisional.
Proposisi kategorial: hubungan subjek dan predikat terjadi dengan tanpa syarat, contohnya dapat kita lihat pada kalimat “Semua kaca bisa pecah.”. Kemudian pada proposisi kondisional, hubungan subjek dan predikat terjadi dengan syarat, contohnya dapat kita lihat pada kalimat “Kalau tidak dipotong, rambut akan panjang.”
Proposisi kondisional seperti contoh di atas disebut proposisi kondisional hipotesis. Di samping itu, terdapat pula proposisi kondisional disjugtif, yaitu proposisi kondisional yang mengemukakan pilihan. Biasanya ditandai dengan kata “atau” pada kalimatnya. Contohnya adalah kalimat “WS Rendra adalah seorang sastrawan atau budayawan.”
c.       Berdasarkan kualitas
proposisi dapat dibedakan menjadi proposisi positif (afirmatif) dan proposisi negatif. Proposisi positif adalah proposisi yang membenarkan adanya persesuaian antara subjek dan predikat, contohnya adalah kalimat “Ibu adalah wanita yang hebat”, sedangkan proposisi negatif adalah proposisi yang menyatakan bahwa antara subjek dan predikat tidak ada hubungannya, contohnya adalah kalimat “sebagian buah tidak berasa manis.”
d.      Berdasarkan kuantitas
Berdasarkan kuantitasnya, proposisi dapat dibedakan ke dalam proposisi universal dan proposisi khusus. Pada proposisi universal, predikat membenarkan atau mengingkari seluruh subjek, yang perlu digarisbawahi di sini adalah kata seluruh tersebut, contohnya adalah kalimat “Semua anak-anak yang bersekolah di TK Harapan itu mengenakan seragam berwarna merah pada hari Senin.”. Kemudian pada proposisi khusus, predikat membenarkan atau mengingkari sebagian subjek, yang perlu digarisbawahi adalah kata sebagian tersebut, contohnya adalah kalimat “tidak ada satupun rumah dipemukiman kumuh itu yang layak untuk ditinggali.”

C.     INFERENSI DAN IMPLIKASI
Inferensi
Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.
Contoh :
Semua wanita itu cantik
Dinda adalah wanita
Berarti Dinda cantik
Implikasi
Pada dasarnya implikasi bisa kita definisikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian. Akan tetapi secara bahasa memiliki arti sesuatu yang telah tersimpul di dalamnya.

D.     WUJUD EVIDENSI
Adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan.
Fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur-adukkan dengan apa yang dikenal dengan pernyataan dan penegasan. Pernyataan tidak berpengaruh apa-apa pada evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah suatu fakta itu benar atau tidak. Fakta adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi, atau sesuatu yang ada secara nyata.  

E.     CARA MENGUJI DATA

Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.
1.                   Observasi
2.                   Kesaksian
3.                   Autoritas

Cara Menguji Fakta

Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
F.      CARA MENILAI AUTORITAS
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1.                   Tidak mengandung prasangka
2.                   Pengalaman dan pendidikan autoritas
3.                   Kemashuran dan prestise
4.                   Koherensi dengan kemajuan

Sumber/referensi:
http://bangbiw.com/penalaran-dalam-bahasa-indonesia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar