Nama : Winda Meryeta P
NPM/Kelas : 29213324 / 3EB24
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 2
PENALARAN
ILMIAH
A.
PENALARAN
Penalaran
adalah suatu proses berpikir dengan menghubungkan bukti-bukti secara logika
berdasarkan bukti atau fakta untuk memecahkan suatu masalah atau menunjuk satu
kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik
dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan.
Bahan
pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau
pendapat para ahli (otoritas).
Jenis-jenis
penalaran dengan pengertiannya :
1. Penalaran
Induktif : Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang diawali dari sesuatu
yang khusus menuju sesuatu yang umum.
Penalaran
Induktif dilakukan dengan 3 cara:
a. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang berawal dari beberapa gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari peristiwa itu. Generalisasi dapat diperoleh dari pengalaman, wawancara, observasi dan sebagainya.
Generalisasi adalah proses penalaran yang berawal dari beberapa gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari peristiwa itu. Generalisasi dapat diperoleh dari pengalaman, wawancara, observasi dan sebagainya.
Contoh penalaran induktif dengan cara generalisasi :
Berdasarkan pengalaman, seorang ibu dapat mengetahui dan membedakan kebiasaan
atau sifat anaknya yang pertama dengan anaknya yang kedua.
b. Analogi
Analogi adalah suatu proses yag berawal dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal lainya”
Analogi adalah suatu proses yag berawal dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal lainya”
Contoh penalaran induktif dengan cara analogi: Dalam
riset medis, peneliti mengamati berbagai efek dari bermacam bahan melalui
eksperimen binatang seperti tikus dan kera, yang dalam beberapa hal memiliki
kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dalam penelitian itu akan
disimpulkan apa yang akan terjadi pada hewan tersebut akan terjadi pula pada
manusia.
c. Hubungan
Kausal (Sebab Akibat)
hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang berawal dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul tanpa penyebab.
hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang berawal dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul tanpa penyebab.
Contoh penalaran induktif dengan cara hubungan kausal:
Tiara harus membuat surat keterangan rawat inap dari Rumah Sakit karena Ia
sakit demam beradarah saat sedang ujian tengah semester. Surat itu harus
diberikan ke kampus, karena Tiara tidak dapat melaksakan ujian dengan alasan
yang kuat. Karena kalau tidak ada surat itu,
Tiara tidak diperkenankan mengikuti ujian susulan.
2. Penalaran
Deduktif: suatu proses berpikir yang berawal dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum,
teori atau keyakinan) menuju hal-hal khusus.
Penalaran
dedukti dilakukan dengan 2 cara :
a. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua pernyataan yang berbeda untuk menarik sebuah kesimpulan yang merupakan pernyataan yang ketiga. Silogisme terdiri atas 3 yaitu :
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua pernyataan yang berbeda untuk menarik sebuah kesimpulan yang merupakan pernyataan yang ketiga. Silogisme terdiri atas 3 yaitu :
-
Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme,
merupakan generalisasi atau proposisis yang dianggap benar bagi semua unsur
atau anggota kelas tertentu.
-
Premis minor mengandung term minor atau tengah dari
silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menuntuk sebuah kasus
atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu.
-
Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa
yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.
·
Premis mayor : Semua dosen di Universitas G minimal
bergelar S2.
·
Premis minor : Pak Gendut adalah dosen di Universitas
G.
·
Kesimpulan :
Pak Gendut sudah bergelar S2.
b. Entinem
Entiem adalah suatu proses penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
Entiem adalah suatu proses penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
c. Salah Nalar, Pengertian dan Macamnya
Salah nalar (reasioning atau logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena kurang tepat dalam menarik kesimpulan. Kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kecerobohan atau ketidaktahuan.
Salah nalar (reasioning atau logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena kurang tepat dalam menarik kesimpulan. Kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kecerobohan atau ketidaktahuan.
Salah nalar dapat dibedakan atas 5 macam:
- Generalisasi
yang terlalu luas
Salah nalar ini terjadi karena kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap menggampangkan, malas mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas.
Salah nalar ini terjadi karena kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap menggampangkan, malas mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas.
- Kerancuan analogi
Kerancuan analogi disebabkan karena penggunaan analogi yang tidak tepat. Dua hal yang diperbandingkan tidak memiliki kesamaan esensial (pokok).
Kerancuan analogi disebabkan karena penggunaan analogi yang tidak tepat. Dua hal yang diperbandingkan tidak memiliki kesamaan esensial (pokok).
- Kekeliruan kasualitas (sebab akibat)
Kekeliruan kasualitas terjadi karena kekeliruan menentukan sebab.
Kekeliruan kasualitas terjadi karena kekeliruan menentukan sebab.
-
Kesalahan relevansi
Kesalahan relevansi akan terjadi apabila bukti yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang sebuah kesimpulan.
Kesalahan relevansi akan terjadi apabila bukti yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang sebuah kesimpulan.
-
Penyandaran terhadap prestise seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya.
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya.
B. PROPOSISI
Proposisi sendiri
berarti data yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan
benar-tidaknya. Agar pembaca dapat menerima data secara benar maka data ini
harus dirumuskan dalam kalimat berita yang netral.
Proposisi
ini terbangun karena adanya unsur yang disebut term.
Term adalah kata
atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah
kalimat proposisi.
Dengan demikian, proposisi
adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat dalam subjek dan predikat.
Sebagai contoh coba kita lihat kalimat di bawah ini:
“Semua
kayu pasti akan keropos” Kalimat “Semua kayu pasti akan keropos”
adalah sebuah bentuk proposisi,
sedang kalimat “Semua
kayu” dan “pasti akan keropos” adalah term. Hal yang
menjadi catatan adalah bahwa proposisi harus berupa kalimat berita. Dalam
kalimat ini pula harus dapat ditunjuk kelompok kalimat subjek dan kelompok
kalimat predikat.
Jenis-jenis proposisi ada 4 :
a. Berdasarkan
bentuk
Berdasarkan bentuk, proposisi dapat
dibedakan ke dalam proposisi tunggal dan proposisi majemuk. Proposisi tunggal
merupakan proposisi yang terdiri atas satu pernyataan, sedangkan proposisi
majemuk merupakan proposisi yang memuat dua (atau lebih) pernyataan dalam satu
kalimat. Sebagai contoh perhatikan kalimat di bawah ini:
“Semua polisi bertugas mengayomi dan mengamankan masyarakat.”
Pada dasarnya kalimat di atas
terdiri dari dua pernyataan, yaitu “semua polisi bertugas mengayomi masyarakat.”
dan “semua polisi bertugas
mengamankan masyarakat.”
b. Berdasarkan
sifat
Berdasarkan
sifat, proposisi dapat dibedakan ke dalam proposisi kategorial dan proposisi
kondisional.
Proposisi
kategorial: hubungan subjek dan predikat terjadi dengan tanpa syarat, contohnya
dapat kita lihat pada kalimat “Semua kaca bisa pecah.”. Kemudian pada
proposisi kondisional, hubungan subjek dan predikat terjadi dengan syarat,
contohnya dapat kita lihat pada kalimat “Kalau tidak dipotong, rambut akan panjang.”
Proposisi
kondisional seperti contoh di atas disebut proposisi kondisional hipotesis.
Di samping itu, terdapat pula proposisi kondisional disjugtif, yaitu proposisi
kondisional yang mengemukakan pilihan. Biasanya ditandai dengan kata “atau”
pada kalimatnya. Contohnya adalah kalimat “WS Rendra adalah seorang sastrawan atau budayawan.”
c. Berdasarkan
kualitas
proposisi
dapat dibedakan menjadi proposisi positif (afirmatif) dan proposisi negatif.
Proposisi positif adalah proposisi yang membenarkan adanya persesuaian antara
subjek dan predikat, contohnya adalah kalimat “Ibu adalah wanita yang hebat”, sedangkan
proposisi negatif adalah proposisi yang menyatakan bahwa antara subjek dan
predikat tidak ada hubungannya, contohnya adalah kalimat “sebagian buah tidak berasa manis.”
d. Berdasarkan
kuantitas
Berdasarkan
kuantitasnya, proposisi dapat dibedakan ke dalam proposisi universal dan
proposisi khusus. Pada proposisi universal, predikat membenarkan atau
mengingkari seluruh
subjek, yang perlu digarisbawahi di sini adalah kata seluruh tersebut, contohnya adalah kalimat “Semua anak-anak yang bersekolah di TK
Harapan itu mengenakan seragam berwarna merah pada hari Senin.”. Kemudian pada
proposisi khusus, predikat membenarkan atau mengingkari sebagian subjek,
yang perlu digarisbawahi adalah kata sebagian tersebut, contohnya adalah kalimat
“tidak ada satupun
rumah dipemukiman kumuh itu yang layak untuk ditinggali.”
C. INFERENSI
DAN IMPLIKASI
Inferensi
Inferensi
adalah tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis
yang diketahui atau dianggap benar.
Contoh
:
Semua
wanita itu cantik
Dinda
adalah wanita
Berarti
Dinda cantik
Implikasi
Pada
dasarnya implikasi bisa kita definisikan sebagai akibat langsung atau
konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian. Akan tetapi secara bahasa
memiliki arti sesuatu yang telah tersimpul di dalamnya.
D.
WUJUD
EVIDENSI
Adalah
semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu.
Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk
memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris. Akan
tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun
petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan.
Fakta dalam kedudukan sebagai
evidensi tidak boleh dicampur-adukkan dengan apa yang dikenal dengan pernyataan dan penegasan. Pernyataan tidak
berpengaruh apa-apa pada evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah suatu
fakta itu benar atau tidak. Fakta
adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi, atau sesuatu yang ada
secara nyata.
E. CARA MENGUJI DATA
Data dan informasi yang digunakan dalam
penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian
melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap
digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan
untuk pengujian tersebut.
1.
Observasi
2.
Kesaksian
3.
Autoritas
Cara Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh
itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru
merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua
bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan
penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan
sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
F.
CARA MENILAI AUTORITAS
Seorang penulis yang objektif selalu
menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang
baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat
yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1.
Tidak
mengandung prasangka
2.
Pengalaman
dan pendidikan autoritas
3.
Kemashuran
dan prestise
4.
Koherensi
dengan kemajuan
Sumber/referensi:
http://bangbiw.com/penalaran-dalam-bahasa-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar