Sabtu, 14 November 2015

The Story of 13th

Hai.
Satu kata sapa begitu singkat namun menyenangkan, biasanya berlanjut pada beberapa topik yang menghangatkan.
Semoga bisa selalu hangat. Mungkin nanti akan dingin? Biarlah, teh yang nikmat pun tidak akan mungkin selalu hangat. Pecinta es yang dingin dan keras seperti batupun tak selamanya minum teh dengan es. Hangat akan sangat dibutuhkan, tatkala si dingin begitu menyakitkan.

Apa maksudmu? Apa maksudku?
Aku berterimakasih atas kebahagiaan yang datang. Si hangat yang menetralkan dingin es batuku. Si Dia yang selalu menyapa 'Hai' manakala aku butuh tak butuh dengannya.

Mungkin harus aku berkata maaf atas penolakan yang tak terkendali waktu itu. Tak peduli melihat kebaikan berubah menjadi kesedihan. Tak apa, katamu. Mungkin pernah kau rasa aku bukan yang dimaksud Tuhan. Akupun selalu berpikir begitu.

Siapa kau pikirku.. aku hanya ingin pertemanan sederhana kataku. Tidak yang seperti kau mau. Kau mengiyakan apa-apa yang aku inginkan . Mungkin saat itupun kau memang belum benar merasa cinta. Lalu tanpa beban kau lupakan.

Pasti akan kembali saat merasa dikhianati 'lagi'.
Dan tepat. Kau datang lagi. Hanya mencoba peruntungan denganku sepertinya. Karna cinta yang Dia maksud telah menusuknya untuk kesekian kali.

Cinta yang dia maksud? Iya tentu bukan aku. Si mawar berduri. Yang sering ia petik tapi selalu menyakiti. Hahaha rupanya bangga benar si mawar berhasil melukai tangan yang begitu tulus. Namun bukan berarti aku mau menjadi bunga lain yang bukan bunga tujuannya.

Oh. Sungguh bodoh. Terlalu lantang aku berucap itu untuk menyakitinya, supaya dia tersadar akan bunga busuk yang berusaha ia petik.

Apakah lalu sadar? Tidak. Kusuruh dia lari lagi. Rupanya dia selalu ingin tahu dan ingin terus merasa perih kesekian kali. Sebaiknya kalau nanti terulang jangan kembali lagi, itulah yang selalu aku harapkan.

Terjadi lagi. Lalu mungkin pikirnya aku akan menjadi obat merahnya? Yang mengusap lukanya, ketika sembuh ia kemudian mencoba memetik lagi dan lagi? Aku bahkan lebih baik menjadi air keras untuk lukanya supaya ia merasa teramat sakit tak terkendali dan lalu ingat betapa perih ia rasakan pedihnya. Dikhianati, dicampakan, ditinggalkan. Akan seperti disiram air keras rasanya jika kau tidak pakai otakmu lalu melanjutkan.

Sebetulnya, tak sampai hati diri ini menyayat lukanya dengan ucapanku. Namun, terjadilah apa yang memang seharusnya. Pecutlah agar dia mau jalan cepat dan tak menunduk saja. Tamparlah agar dia bangun dan siap menerima aba-aba.

Dan lihatlah.. kau bahkan bukan hewan yang harus aku pecut, kau bahkan bukan tersangka yang harus aku tampar. Buatlah aku memperlakukanmu selayaknya anak Adam dan Hawa yang saling merangkul sesama.

Tak paham lagi aku harus apa untuk menyadarkannya. Biar diam biar lalu biar tak usah aku campuri lagi inginnya dengan impiannya.

Lama tak aku dengar, sepertinya dia memang sakit hati denganku. Makin lama aku tak disapa, sepertinya dia mulai membenciku. Jika itu yang benar terjadi, terjadilah semaunya. Lakukan apa-apa seperti katanya. Akupun tidak ada rindu untuknya. Lalu lupakan, dan aku merasa tak pernah ada untuknya lagi. Tidak apa-apa.

"Tuhan mempertemukan orang dengan berbagai cara. Sebenci apapun kau dengannya, kalau Tuhan sudah menakdirkan bertemu, sejauh apapun kau menghindar, kau akan bertatap dengannya."

Itu yang pernah aku simak, dan itu terjadi padaku. Entah bagaimana. Sudah tak lekat ingatanku pada saat itu. Kau kembali lagi menawarkan manis untukku, dan terasa manis. Berbeda dengan sebelumnya. Dulu aku tolak manismu dengan seribu cara. Apa kau sudah mulai tulus?

Tak ada kata munafik yang dituduhkan padaku. Tak ada kata bahwa dulu aku pura-pura tidak suka. Tidak ada. Dulu aku tidak suka. Dulu bahkan aku mengutuknya untuk jangan sampai dirinya bersanding denganku. Namun kini? Ah..

Sudah aku bilang aku seperti es batu yang dinetralkan oleh air hangat. Aku masih menjadi batu keras pada saat itu.. aku buat dia mengutarakan inginnya dan sungguh-sungguh atas apa yang dia incar. Aku ingin lihat, seberapa usahanya untuk membuktikan kata manisnya yang ia bilang "tulus". Ucapnya dia sudah menyadari atas kebodohannya dan itu karena aku. Benarkah? Bisa buktikan?

Waktu berjalan dan bahkan si mawar justru mencari keberadaannya. Saat yang tepat untuk membuktikan itu. Lakukan apa yang menjadi pembuktianmu!

Layu lah si mawar ketika tahu tukang petiknya sudah tak berminat lagi dengannya. Sungguh, kasihan. Mawar yang jual mahal kemudian tetap berusaha jual lebih mahal. Iya-kan saja kata kami. Dia pun sudah tak berniat memetiknya lagi.

Rasanya mungkin aku kepalang bahagia dibuat olehnya. Melihat perlahan keseriusan yang dia berikan. Es batu pun mencair disentuh air hangat. Justru mungkin ikut menjadi hangat saking hangatnya..

Suatu waktu, ia menanyakan atas kepastianku. Merasa bingung, merasa ada sedikit sayang, namun lelah untuk mendapat yang salah.
Inginnya dia tatap muka denganku untuk membuktikannya. Aku coba membuat rumit. Jangan jemput aku dijalan, jangan bertemu di tempat tujuan, datanglah kerumah? Walau belum sekalipun kita pernah bertemu dan bertegur sapa. Carilah keluargaku. Berikan kesan baik pada mereka. Sanggupkah pemuda yang bahkan belum 18tahun itu melakukannya? Pasti 'cemen' pikirku. Namun iya menyanggupi. Justru malah aku yang dibuatnya kaget. Benarkah dia? Apa cuma main-main?

Apa yang terjadi? Dengan bermodalkan alamat pada sms, dia menemui aku dan keluargaku. Dan hari itu  keluargaku mendapat kesan baik tentangnya. Kami bahkan pergi menghabiskan hari berdua. Pertemuan pertama yang begitu tidak diduga-duga. Aku dapat pembuktian yang lebih dari yang aku bayangkan. Terimakasih aku dibuatnya begitu berarti..

Melanjutkan keseriusannya, akupun mencoba dewasa dengan membuat komitmen. Belum 100% aku meyakininya namun semoga aku bisa membawanya menjadi lebih baik. begitupun sebaliknya.

Pastinya saat itu menjadi hari kramat untukku. Aku tahu dia bahagia. Aku tahu akupun baru mencoba. Namun tentunya berharap selamanya. Hari itu, di pagi hari yang sejuk. Hari Minggu. Tanggal itu. Tepat di angka kesukaanku. 13. Dibulan pertama awal tahun, di musim hujan yang menyenangkan. Januari. Ditahun kedua aku mengenalnya. Masa-masa 2tahun pendekatan dan berhenti pada tahun itu untuk memulai tahun yang baru atas nama 'kita'. 2013. Minggu, 13 Januari 2013. Hope we can be together and happilly ever after. Aamiin.
-YW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar